MALUKU — Memasuki usia ke-54, Petrokimia Gresik tidak sekadar merayakan. Perusahaan pupuk pelat merah ini justru menggenjot transformasi bisnis di tengah badai industri global. Direktur Utama Daconi Khotob menyebutkan, dinamika geopolitik dan perubahan iklim masih menjadi bayang-bayang yang harus dihadapi dengan fondasi perusahaan yang kokoh.
"Kami terus memperkuat fondasi perusahaan agar mampu tumbuh secara berkelanjutan, meningkatkan daya saing, dan memberikan manfaat yang semakin luas bagi pertanian Indonesia," kata Daconi dalam keterangan pers, Sabtu (11/7/2026).
Produksi Melesat, Target 2026 Naik 6 Persen
Kinerja operasional menjadi bukti nyata. Realisasi produksi pupuk sepanjang 2025 mencapai 4.683.477 ton, lebih tinggi dibandingkan 4.474.914 ton pada 2024. Tren positif ini berlanjut di paruh pertama 2026, di mana produksi tercatat 2.716.141 ton, melonjak signifikan dari 2.431.506 ton pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Target produksi tahun ini pun dipatok naik 6 persen dibanding target 2025. Angka ini menunjukkan optimisme manajemen di tengah tekanan harga bahan baku dan energi yang masih fluktuatif.
Proyek Flex-Phos: Satu Pabrik, Tiga Fungsi
Untuk memperkuat daya saing, Petrokimia Gresik memodifikasi Pabrik Fosfat I menjadi Pabrik Phonska V. Teknologi anyar bernama Flex-Phos memungkinkan satu fasilitas memproduksi tiga jenis pupuk sekaligus: NPK Phonska, NPK Solid Granulation, dan pupuk fosfat.
Langkah ini memberi fleksibilitas tinggi bagi perusahaan dalam merespons permintaan pasar yang kerap berubah. Alih-alih membangun pabrik baru, modifikasi ini dinilai lebih efisien dan cepat diimplementasikan.
Dampak Langsung ke Petani
Semua upaya ini bermuara pada satu tujuan: swasembada pangan. Dengan produksi yang terus meningkat dan fleksibilitas produk yang lebih baik, pasokan pupuk bagi petani diharapkan lebih stabil. Tema HUT ke-54, "Growing the Future", bukan sekadar jargon — melainkan peta jalan untuk memastikan sektor pertanian nasional tetap tumbuh di tengah ketidakpastian global.