Pencarian

Rupiah Tembus Rp17.944 per Dolar AS, Arus Keluar Dana Asing Capai Rp940 Miliar di Tengah Ketidakpastian Global

Rabu, 01 Juli 2026 • 15:26:31 WIB
Rupiah Tembus Rp17.944 per Dolar AS, Arus Keluar Dana Asing Capai Rp940 Miliar di Tengah Ketidakpastian Global
Rupiah melemah ke Rp17.944 per dolar AS di tengah arus keluar dana asing sebesar Rp940 miliar.

JAKARTA — Tekanan terhadap rupiah belum juga mereda. Pada perdagangan Rabu pagi, mata uang Garuda dibuka melemah 0,21 persen ke level Rp17.944 per dolar AS, melanjutkan tren negatif dari penutupan sebelumnya di Rp17.907 per dolar AS. Pasar modal pun ikut berdarah, dengan IHSG ambrol ke level 5.643 setelah investor asing mencatatkan aksi jual bersih (net sell) senilai 58,20 juta dolar AS.

Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menjelaskan bahwa arus keluar dana asing menjadi biang kerok utama pelemahan kali ini. “Investor asing mencatatkan net sell sebesar 58,20 juta dolar AS, yang mendorong IHSG turun 3,05 persen ke level 5.643,” ujarnya kepada ANTARA di Jakarta, Rabu.

Inflasi Juni 2026 Diprediksi Tembus 3,41 Persen, Daya Beli Tertekan

Di tengah gejolak nilai tukar, Badan Pusat Statistik (BPS) dijadwalkan merilis data inflasi Juni 2026 dan neraca perdagangan Mei 2026 hari ini. Pasar memperkirakan tekanan harga semakin panas. Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) diproyeksikan melonjak menjadi 0,50 persen secara bulanan (month-on-month/mom) atau 3,41 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Angka ini naik signifikan dibandingkan inflasi Mei 2026 yang tercatat 0,28 persen mom atau 3,08 persen yoy.

Josua menambahkan, kenaikan inflasi didorong oleh semakin kuatnya efek rambatan (pass-through) kenaikan biaya input ke harga konsumen. “Termasuk kenaikan harga energi non-subsidi dan biaya transportasi,” ungkapnya. Kondisi ini jelas mengancam daya beli masyarakat di tengah pelemahan rupiah yang sudah berlangsung berhari-hari.

Surplus Neraca Dagang Melebar, Tapi Tren Jangka Panjang Mengkhawatirkan

Kabar baik datang dari sektor eksternal. Surplus neraca perdagangan Indonesia diproyeksikan melebar menjadi 1,13 miliar dolar AS pada Mei 2026, naik drastis dari surplus tipis 0,09 miliar dolar AS pada April 2026. Lonjakan ini didorong oleh normalisasi aktivitas impor setelah puncak permintaan pasca-Lebaran.

Namun, Josua mengingatkan bahwa tren dalam setahun terakhir justru menunjukkan penyempitan surplus secara bertahap. Artinya, fundamental neraca perdagangan Indonesia belum sepenuhnya solid untuk menjadi bantalan kuat bagi rupiah.

Perang Iran-AS Mereda, Tapi The Hawkish The Fed Bayangi Pasar

Dari sisi global, sentimen sedikit membaik setelah ketegangan di Timur Tengah mulai mereda. Investor menanti perkembangan perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran di Doha, Qatar, yang bertujuan meredakan ketegangan di Selat Hormuz. Lalu lintas kapal tanker minyak pun mulai pulih setelah kedua negara menghentikan aksi saling serang, memperkuat ekspektasi membaiknya pasokan energi global.

Kondisi ini mendorong pasar mengurangi ekspektasi terhadap lebih dari satu kali kenaikan suku bunga The Fed tahun ini. Meski demikian, sikap hawkish dari Federal Open Market Committee (FOMC) yang didukung ketahanan pasar tenaga kerja AS dan inflasi inti yang masih persisten, membuat suku bunga tinggi diprediksi bertahan lebih lama. “Proyeksi hawkish dari FOMC memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga akan tetap berada pada level tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama,” kata Josua.

Hari ini, rupiah diperkirakan masih akan bergerak volatil pada kisaran Rp17.825 hingga Rp17.950 per dolar AS. Pasar menanti data inflasi domestik sebagai pijakan langkah Bank Indonesia selanjutnya.

Follow www.kabartual.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: ambon.antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks