Pencarian

Warga Nafrua Buru Pertanyakan BTS Program Bakti Kemkomdigi yang Berdiri Tanpa Layanan, Desa Masih Terisolir

Kamis, 13 Agustus 2026 • 17:29:01 WIB
Warga Nafrua Buru Pertanyakan BTS Program Bakti Kemkomdigi yang Berdiri Tanpa Layanan, Desa Masih Terisolir
Warga Desa Nafrua, Kabupaten Buru, menyampaikan keluhan terkait menara BTS program Bakti Kemkomdigi yang telah berdiri namun belum memberikan layanan telekomunikasi.

AMBON — Harapan warga Desa Nafrua untuk keluar dari keterisolasian digital melalui program Bakti Kemkomdigi belum terwujud. Meski menara pemancar sinyal telah dibangun di tengah desa, warga mengaku perangkat telekomunikasi mereka tetap tidak berfungsi.

Nikson, salah seorang warga Nafrua, mengungkapkan kekecewaannya saat menyampaikan keluhan di Ambon, Kamis (13/8/2026). Ia menyebut sosialisasi pemerintah kala itu menjanjikan akses internet dan telepon untuk wilayah pedalaman, namun realisasinya tidak sesuai harapan.

"Waktu itu pemerintah ke Desa Nafrua sosialisasi katanya program Bakti ini bertujuan membuka akses telekomunikasi dan internet di wilayah pedalaman atau tertinggal. Kami tentu senang dengan kabar ini, tapi sampai sekarang tidak ada perkembangan," kata Nikson.

Menara Berdiri, Handphone Tak Berfungsi

Keberadaan infrastruktur BTS yang secara fisik telah rampung dibangun justru menjadi ironi bagi masyarakat. Nikson menuturkan, kondisi ini tidak hanya mempersulit komunikasi antarwarga, tetapi juga menghambat aktivitas ekonomi dan sosial budaya.

"Secara pribadi saya prihatin dengan kondisi desa kami. Memang berat kalau towernya ada, tapi handphone tidak bisa dipakai," ujarnya.

Ia menambahkan, keterisolasian ini terasa kontras dengan semangat peringatan kemerdekaan Indonesia yang ke-81. Menurutnya, akses komunikasi merupakan bagian dari kehidupan yang layak bagi warga negara.

"Kami sampai sekarang sangat terisolir. Bagaimana mau dikatakan sudah merdeka sementara rakyat saja masih sengsara, belum mendapatkan kehidupan yang layak," tutur Nikson.

Dampak Ekonomi di Tengah Kemajuan Zaman

Nikson menjelaskan, minimnya akses internet membuat warga kesulitan memasarkan hasil pertanian dan hasil hutan ke pasar yang lebih luas. Kondisi ini dinilai menjadi tantangan besar di tengah kemajuan teknologi saat ini.

"Zaman sudah canggih, tapi masyarakat di desa kami kalau musim panen tiba, mereka mau mempromosikan hasil-hasil kebun dan hasil hutan menjadi lambat. Belum lagi masalah-masalah sosial dan budaya, itu semua tantangan bagi kami," jelasnya.

Ia berharap Pemerintah Kabupaten Buru dan Pemerintah Provinsi Maluku segera berkoordinasi dengan pemerintah pusat serta pihak terkait. Tujuannya, memastikan layanan telekomunikasi di Nafrua benar-benar beroperasi dan bermanfaat bagi masyarakat.

Pemerataan Digital Tak Cukup dengan Bangun Menara

Program Bakti yang digagas Kemkomdigi merupakan upaya pemerintah memperluas akses telekomunikasi dan internet di wilayah 3T yang secara geografis sulit dijangkau. Namun, keluhan warga Nafrua menjadi pengingat bahwa pembangunan infrastruktur fisik saja tidak cukup.

Ketersediaan jaringan, operasional infrastruktur, dan kualitas layanan menjadi bagian penting agar masyarakat di wilayah pedalaman benar-benar keluar dari keterisolasian digital. Bagi warga Nafrua, kehadiran BTS seharusnya menjadi pintu masuk menuju konektivitas, bukan sekadar bangunan yang berdiri tanpa manfaat.

Follow www.kabartual.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: timesmaluku.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks