MALUKU — Listrik dari Lereng Dieng untuk Ratusan Ribu Warga
Pernahkah membayangkan air yang mengalir dari pegunungan bisa menjadi sumber penerangan bagi jutaan orang? Itulah yang terjadi di PLTA Garung. Berlokasi di Kabupaten Wonosobo, pembangkit yang dikelola PLN Indonesia Power Unit Bisnis Pembangkitan (UBP) Mrica ini tidak hanya mengandalkan uap atau batu bara, melainkan memutar dua turbin tipe Francis berkapasitas masing-masing 13,2 MW.
Total kapasitas yang dihasilkan mencapai 26,4 MW. Angka ini bukan sekadar statistik; setara dengan kebutuhan listrik untuk 20 hingga 30 desa atau sekitar 4-6 kecamatan berukuran sedang di Jawa Tengah. Aliran listrik yang dihasilkan langsung dialirkan ke jaringan interkoneksi Jawa-Bali, memastikan pasokan energi tetap stabil bagi rumah tangga dan industri.
Menopang Transisi Energi Nasional
Kehadiran PLTA Garung menjadi bukti nyata bahwa energi bersih bukan sekadar wacana. Direktur Utama PLN Indonesia Power, Bernadus Sudarmanta, menegaskan bahwa pihaknya terus memperkuat peran pembangkit EBT sebagai fondasi transisi energi.
"PLN Indonesia Power terus memperkuat peran pembangkit energi baru terbarukan sebagai fondasi transisi energi nasional. PLTA Garung tidak hanya menghadirkan pasokan listrik yang andal dan rendah emisi, tetapi juga menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam menciptakan nilai bersama melalui pemberdayaan masyarakat dan pengembangan potensi lokal di sekitar wilayah operasi," ujarnya.
Senada dengan itu, Senior Manager PLN Indonesia Power UBP Mrica, Wasis Jati Waskitho, menambahkan bahwa operasional pembangkit terus dioptimalkan. Menurutnya, menjaga keandalan mesin adalah kunci agar manfaat energi terbarukan ini bisa dirasakan secara berkelanjutan oleh masyarakat.
Dampak Sosial di Balik Turbin
Di luar urusan kelistrikan, keberadaan PLTA Garung juga menyentuh sektor sosial. PLN Indonesia Power UBP Mrica menjalankan program pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah operasional. Salah satu yang menonjol adalah pendampingan terhadap Batik Shanding di Wonosobo.
Usaha sosial ini melibatkan penyandang disabilitas dalam produksi batik tulis dan batik ciprat. Melalui program tersebut, para perajin tidak hanya mendapatkan keterampilan, tetapi juga ruang berekspresi dengan memadukan teknik tradisional dan sentuhan artistik. Dengan begitu, dampak pembangkit ini tidak hanya terukur dari megawatt yang dihasilkan, tetapi juga dari kehidupan sosial ekonomi warga yang lebih baik.