MALUKU — Bantahan keras dari CEO Tesla itu muncul setelah The Wall Street Journal pada 30 Juli mengungkap adanya pembahasan internal mengenai skenario bisnis di China, mulai dari memisahkan operasi menjadi entitas independen, menjualnya, hingga menutup seluruh aktivitas di negara tersebut. Sumber yang mengetahui masalah ini mengatakan belum ada kepastian kapan rencana itu akan dieksekusi dan opsi yang ada bisa berubah sewaktu-waktu.
"Hal ini tidak pernah disebutkan dalam diskusi apa pun. Ini adalah berita palsu yang tidak masuk akal," tulis Elon Musk dalam unggahan di media sosial. Hingga berita ini diturunkan, baik Tesla maupun SpaceX belum mengeluarkan pernyataan resmi selain komentar dari Musk tersebut. Menariknya, saham Tesla justru naik sekitar 2% dalam perdagangan pra-pasar setelah klarifikasi dari miliarder tersebut.
Isu penggabungan Tesla dan SpaceX sebenarnya sudah lama menjadi perbincangan hangat di kalangan investor dan analis. Spekulasi ini kian menguat setelah SpaceX meluncurkan penawaran umum perdana (IPO) yang memecahkan rekor senilai USD 75 miliar.
Pada awal Juli 2026, Elon Musk sendiri tidak menampik kemungkinan kedua perusahaan bergabung di masa depan. Ia menilai operasional Tesla dan SpaceX semakin tumpang tindih. Presiden dan CEO SpaceX, Gwynne Shotwell, juga pernah mengungkapkan kepada CNBC pada Juni 2026 bahwa menyatukan kedua bisnis dalam satu atap "dapat membuat hidup Elon Musk sedikit lebih mudah" karena bisa merampingkan manajemen.
Namun, para analis JPMorgan menilai hambatan terbesar bukan terletak pada aspek bisnis, melainkan pada prosedur hukum dan persetujuan regulasi, terutama di China. Jika kedua perusahaan benar-benar bergabung, kesepakatan itu akan menghadapi hambatan geopolitik yang signifikan. SpaceX merupakan kontraktor pertahanan utama AS yang terlibat dalam berbagai program satelit dan keamanan nasional, sementara Tesla memiliki seluruh fasilitas manufakturnya di China.
Menurut laporan The Wall Street Journal, dalam beberapa tahun terakhir Elon Musk telah menginstruksikan pimpinan Tesla untuk mengatur operasional bisnisnya menggunakan model "tanpa bingkai laser" antara AS dan China. Tujuannya sederhana: jika ketegangan geopolitik antara dua ekonomi terbesar dunia meningkat, operasional Tesla di AS tetap bisa berjalan independen.
Para eksekutif Tesla juga dikabarkan telah membahas pembentukan unit penjualan terpisah untuk menangani ekspor dari pabrik Shanghai. Selain itu, Tesla mungkin akan membangun sistem kantor independen dan membatasi akses langsung bagi karyawan di China ke bagian lain perusahaan. Berbeda dengan banyak produsen mobil asing yang beroperasi di China, bisnis Tesla di negara tersebut tidak diorganisir sebagai usaha patungan dengan mitra lokal.
Gigafactory Shanghai saat ini merupakan fasilitas manufaktur Tesla terbesar dan paling produktif di dunia. Pabrik ini berfungsi sebagai pusat ekspor ke Eropa, Kanada, dan berbagai pasar Asia-Pasifik. Selain menjadi pusat ekspor, China tetap menjadi pasar terbesar kedua Tesla setelah Amerika Serikat.
Bisnis Tesla di China terus menunjukkan pertumbuhan positif. Pada Juni 2026, jumlah pengiriman Model 3 dan Model Y di China meningkat 24,4% dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, penjualan dan ekspor dari pabrik Shanghai pada kuartal kedua 2026 tumbuh 32,8%. Angka-angka ini menunjukkan betapa krusialnya pasar China bagi kelangsungan bisnis Tesla secara global, sekaligus menjelaskan mengapa isu pemisahan operasi menjadi begitu sensitif.