AMBON — Pemerintah Provinsi Maluku dan Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Maluku memperkuat sinergi kebijakan fiskal pusat dan daerah untuk mengakselerasi pembangunan sektor pertanian dan hilirisasi komoditas unggulan. Sebagai langkah konkret, investasi senilai Rp 640 miliar dari PTPN XIV untuk pembangunan pabrik pengolahan kelapa dan pala di Kabupaten Maluku Tengah ditargetkan mulai beroperasi pada 2028.
Proyek yang merupakan bagian dari Proyek Hilirisasi Nasional ini mencakup pembangunan pabrik pengolahan kelapa terintegrasi berkapasitas 300.000 butir per hari. Selain itu, akan dibangun pula pabrik pengolahan pala yang mampu menyerap sekitar 2.568 ton pala per tahun, atau setara dengan 50 persen dari total produksi pala Maluku.
Kepala Kanwil DJPb Provinsi Maluku, Anang Rohmawan, menegaskan sektor pertanian dan pangan merupakan tulang punggung perekonomian Maluku. "Pemerintah pusat terus memperkuat perekonomian regional melalui sinergi kebijakan fiskal, khususnya pada sektor pertanian dan pangan," katanya di Ambon, Rabu.
Dukungan tidak hanya melalui investasi besar. Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Maluku menyebutkan pemerintah tengah menjalankan program rehabilitasi lahan dan pembenihan. Targetnya, penyaluran benih unggul kelapa, kakao, dan pala akan dimulai pada September 2026 untuk meningkatkan produktivitas perkebunan rakyat.
Sekretaris Daerah Provinsi Maluku, Sadali Ie, yang membuka forum koordinasi tersebut menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor. "Sinergi antarlembaga harus terus diperkuat dengan menghilangkan sekat-sekat antarinstansi agar pembangunan pertanian dan hilirisasi komoditas unggulan berjalan terpadu, meningkatkan daya saing daerah, sekaligus mendorong kesejahteraan petani," ujarnya.
Dinas Pertanian Provinsi Maluku menyebut pembangunan pertanian daerah saat ini difokuskan pada pengembangan komoditas unggulan lokal, terutama kelapa dan pala. Setelah itu, pengembangan akan diperluas ke subsektor lainnya, termasuk peternakan ayam petelur. Peningkatan produksi dinilai harus diikuti pengembangan hilirisasi agar mampu menciptakan nilai tambah bagi petani.
Maluku memiliki potensi besar pada komoditas unggulan seperti pala, kelapa, cengkeh, kakao, dan sagu. Anang Rohmawan menambahkan, komoditas ini bisa menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi berbasis sumber daya alam apabila didukung investasi, infrastruktur, modernisasi pertanian, dan pengembangan industri hilir.
Forum Koordinasi Strategis Pusat-Daerah bertajuk "Sinergi Kebijakan Pusat dan Daerah untuk Akselerasi Pembangunan Pertanian dan Hilirisasi Komoditas Unggulan Provinsi Maluku" digelar di Ambon. Forum ini menghadirkan pemerintah pusat, pemerintah daerah, akademisi, dunia usaha, lembaga keuangan, dan berbagai pemangku kepentingan.
Pembahasan mencakup kondisi ekonomi regional, dukungan APBN terhadap pembangunan pertanian, implementasi program prioritas nasional, hingga peluang investasi dan hilirisasi komoditas unggulan. Forum ini merupakan bagian dari peran Kanwil DJPb sebagai Regional Economist dan Financial Advisor pemerintah daerah untuk menyelaraskan arah kebijakan pembangunan pusat dan daerah.