AMBON — Ratusan warga dan suporter lintas negara menggelar konvoi serta perayaan spontan di kawasan pertigaan Desa Poka dan Jembatan Merah Putih (JMP), Selasa (30/6/2026) malam. Aksi ini pecah setelah laga Belanda versus Maroko pada Piala Dunia 2026 berakhir dengan kemenangan untuk tim asal Afrika Utara tersebut.
Pantauan di lokasi menunjukkan, kerumunan yang memadati jalan tidak didominasi pendukung Maroko. Sebagian besar peserta konvoi justru mengenakan atribut tim nasional Brasil, Spanyol, Argentina, Portugal, Prancis, hingga Inggris—negara-negara yang juga menjadi peserta Piala Dunia 2026.
"Mereka turun ke jalan bukan semata untuk mendukung Maroko, melainkan merayakan tersingkirnya Belanda dari Piala Dunia 2026," tulis Terasmaluku.com dalam laporannya.
Meski berasal dari kelompok suporter berbeda yang selama ini dikenal memiliki rivalitas, mereka tampak berbaur dalam satu kegembiraan. Atribut dan identitas pendukung seolah melebur di pertigaan Desa Poka. Para suporter lintas negara bersama-sama merayakan hasil pertandingan, menciptakan suasana semarak yang penuh warna dan hiburan.
Fenomena ini, menurut pengamatan, kerap muncul setiap gelaran Piala Dunia di Kota Ambon. Kekalahan salah satu tim unggulan maupun kemenangan tim lain sering kali memicu konvoi dan perayaan spontan sebagai bentuk ekspresi kegembiraan sekaligus rivalitas antarsuporter.
Untuk mengantisipasi potensi gangguan keamanan selama perayaan dan konvoi berlangsung, aparat kepolisian disiagakan di sejumlah titik strategis di pusat Kota Ambon. Kehadiran petugas memastikan euforia massa tetap berlangsung dalam koridor yang aman dan terkendali.
Peristiwa ini sekali lagi membuktikan bagaimana euforia Piala Dunia di Kota Ambon selalu punya cara tersendiri untuk menyatukan masyarakat dalam atmosfer rivalitas yang penuh semarak. Antusiasme tinggi warga terhadap perhelatan olahraga paling bergengsi sejagat itu kembali terlihat nyata di jalan-jalan ibu kota Maluku.