AMBON — Bodewin Melkias Wattimena tidak memulai hidupnya dari ruang ber-AC. Ayahnya bekerja sebagai tukang, sementara ibunya menekuni berbagai pekerjaan demi menutup kebutuhan keluarga. Kondisi ekonomi itu memaksa setiap anggota keluarga ikut berjuang, termasuk anak-anak.
Bagi Bodewin kecil, sekolah bukan sekadar rutinitas pagi. Ia harus berjalan kaki sejauh beberapa kilometer dari Kampung Siwang, Negeri Nusaniwe, menuju tempat belajar. Dalam situasi tertentu, perjalanan itu dimulai sejak dini hari dengan bantuan penerangan obor karena belum ada cahaya listrik yang memadai.
Es dan Kue di Sela Jam Sekolah
Di sela-sela pendidikan, Bodewin berjualan es dan kue. Dagangan itu bukan proyek bisnis, melainkan cara membantu meringankan beban keluarga. Penghasilan kecil dari berkeliling kampung menjadi tambahan yang berarti bagi dapur rumah.
Pengalaman itu membentuk cara pandangnya tentang kerja dan uang. Anak yang terbiasa menghitung untung sekian rupiah dari dagangan es memahami betul bagaimana warga kecil di kampung bertahan hidup.
STPDN 1993, Pintu Masuk ke Dunia Pemerintahan
Keterbatasan ekonomi tidak menghentikan langkah Bodewin melanjutkan pendidikan. Kesempatan mengikuti seleksi Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN) pada 1993 menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan kariernya.
Seleksi itu membuka jalan masuk ke dunia birokrasi. Dari sana, kariernya menapaki jenjang pemerintahan hingga akhirnya dipercaya memimpin Kota Ambon sebagai wali kota.
Jejak Kampung yang Tak Lepas dari Balai Kota
Kisah Bodewin menjadi cermin bagi banyak warga Maluku yang tumbuh dalam keterbatasan. Ia bukan figur yang lahir dari lingkaran elite, melainkan dari kampung kecil di Nusaniwe dengan penerangan obor dan dagangan es.
Perjalanan hidup itu kini melekat pada jabatannya. Setiap kebijakan yang keluar dari balai kota membawa latar belakang seorang anak yang pernah berjalan kaki jauh demi menuntut ilmu.