Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) bergerak melemah 21,64 poin atau 0,35 persen ke posisi 6.171,29 pada perdagangan Rabu pukul 10.20 WIB, setelah dibuka menguat. Pelemahan IHSG sejalan dengan bursa saham kawasan Asia yang kompak turun pagi ini, dipimpin indeks Kospi Korea Selatan yang melemah 1,01 persen ke 6.873,79. Kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 juga turun 0,51 poin atau 0,08 persen ke posisi 607,65.
JAKARTA — Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim menyebut potensi penguatan IHSG lebih lanjut masih terbuka pada perdagangan Rabu. Menurut kajiannya, indeks berpeluang menguji level 6.230-6.280 meski dibuka melemah.
"Potensi penguatan IHSG lebih lanjut masih terbuka dengan menguji level 6.230-6.280 pada perdagangan Rabu," ujar Ratna Lim dalam kajiannya di Jakarta, Rabu.
Tekanan datang dari bursa regional. Indeks Nikkei melemah 0,62 persen ke 70.248,00, indeks Hang Seng turun 0,84 persen ke 24.1077,76, dan indeks Kospi melemah 1,01 persen ke 6.873,79.
Indeks Kuala Lumpur juga melemah 0,99 persen ke 1.617,11, sedangkan indeks Strait Times turun 0,92 persen ke 5.649,60. Indeks Shanghai (China) libur dalam rangka memperingati Golden Week atau Hari Nasional China.
Ratna menilai reli yang berlanjut sejak pekan lalu, antusiasme terhadap sektor kecerdasan buatan (AI), dan harga minyak yang stabil telah membantu pasar mengatasi gejolak di pasar obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS).
"Setelah September 2026 yang lesu, bursa saham kembali menguat tajam di awal bulan ini," ujar Ratna.
Sentimen pasar bertahan di tengah aksi jual besar-besaran obligasi pemerintah AS hingga ketidakpastian geopolitik. Dukungan datang dari kebangkitan minat investasi di sektor AI serta kinerja laba perusahaan yang solid.
"Bulan ini juga menandai tahun keempat pasar bullish Wall Street yang dimulai pada tahun 2022. Saat ini merupakan pasar bullish terpanjang kedelapan sejak Perang Dunia II, dengan kenaikan sebesar 118 persen," ujar Ratna.
Return tersebut merupakan terbaik ketiga yang pernah tercatat bagi sebuah pasar bullish. Harga minyak Brent cenderung stabil di level 100 dolar AS per barel pada Selasa (6/10), setelah sebelumnya mengalami koreksi.
Harga emas spot ditutup menguat 0,7 persen di level 4,168 dolar AS per troy oz (6/10). Kenaikan didukung jeda kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan pelemahan dolar.
Investor menantikan risalah rapat The Fed bulan September untuk mendapatkan petunjuk baru mengenai prospek kebijakan moneternya.
Bursa Eropa kompak menguat pada penutupan Selasa (6/10). FTSE 100 Inggris menguat 0,42 persen, indeks DAX Jerman menguat 0,77 persen, indeks CAC 40 Prancis menguat 0,40 persen, dan indeks Euro Stoxx 50 menguat 0,49 persen.
Bursa AS Wall Street juga kompak menguat pada Selasa (6/10). Indeks S&P 500 menguat 0,58 persen ke 7.818,93, indeks Nasdaq Composite menguat 0,45 persen ke 27.599,79, dan indeks Dow Jones Industrial Average menguat 0,49 persen ke 51.521,69.
Dari dalam negeri, investor menantikan data cadangan devisa Indonesia bulan September 2026 pada Rabu (7/10). Sebelumnya, cadangan devisa meningkat di level 146,5 miliar dolar AS pada Agustus 2026 dari 145,3 miliar dolar AS pada Juli 2026.
Penerimaan kepabeanan dan cukai mencapai Rp240,28 triliun per akhir September 2026, atau setara 71,51 persen dari total target penerimaan Bea Cukai yang ditetapkan APBN 2026. Penerimaan tersebut tumbuh 8,57 persen year on year (yoy).
Bank Dunia memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap stabil di level 5,2 persen pada tahun 2026 dan 2027. Untuk kawasan Asia Timur dan Pasifik, Bank Dunia memprediksi pertumbuhan mencapai 4,5 persen pada tahun 2026.
Menurut Bank Dunia, aktivitas ekonomi didukung peningkatan pelaksanaan program-program prioritas pemerintah, investasi yang terkait dengan negara, serta subsidi energi. Bauran kebijakan dinilai mendukung pertumbuhan jangka pendek, namun turut berkontribusi pada ketidakseimbangan fiskal dan eksternal yang lebih besar.