AMBON — Tim penyelenggara Maluku Coffee Week menyiapkan gelaran perdana ini sebagai ruang pengenalan tradisi minum kopi khas Maluku yang selama ini jarang tersentuh panggung festival nasional. Otam, perwakilan Tim Media dan Komunikasi MCW, menyebut riset lapangan jadi dasar penyusunan acara.
Riset itu menemukan bahwa budaya minum kopi di Maluku jauh lebih kuat dari yang selama ini terlihat di permukaan. Temuan inilah yang kemudian mendorong penyelenggara merancang festival dengan pendekatan yang tidak sekadar jualan biji kopi.
Dua tradisi pengolahan kopi bakal jadi sorotan dalam ajang ini. Pertama, Raraobang, teknik merebus kopi bersama rempah-rempah dalam satu proses khas Maluku. Kedua, El-Lula dari Tanjung Al-Ula, Desa Sawai/Luhu, di mana biji kopi direndam air laut sebelum diolah.
Otam menjelaskan bahwa teknik perendaman air laut itu punya kemiripan konsep dengan metode decaf yang dikembangkan merek-merek besar dunia. "Di dunia kopi modern, teknik perendaman dengan air garam ini mirip dengan konsep decaf yang dikembangkan merek-merek besar. Rendaman air laut ini menurunkan kadar kafein tanpa menghilangkan karakter cita rasanya. Dulu, leluhur kita menggunakan teknik ini agar kopi lebih awet saat pengiriman jarak jauh," ujarnya.
Penjelasan itu memberi gambaran bahwa pengetahuan leluhur Maluku soal pengawetan kopi sudah ada jauh sebelum istilah decaf populer di industri kopi global.
Selain soal tradisi, Maluku menyimpan potensi varietas kopi yang belum banyak digarap. Selain Robusta dan Arabika, wilayah Seram Bagian Timur dikenal sebagai rumah bagi varietas Excelsa, biji kopi bernilai tinggi yang sangat diminati di pasar internasional, seperti Malaysia.
Penyelenggara melihat potensi ini sebagai peluang yang perlu diperkenalkan lebih luas ke pelaku industri kopi nasional. Festival perdana ini jadi pintu masuk untuk mempertemukan petani lokal dengan pembeli dari luar daerah.
Maluku Coffee Week berdiri di atas empat pilar utama, salah satunya kepedulian lingkungan lewat program Eco Fest. Penyelenggara berkomitmen mengelola sampah kopi secara langsung di lokasi acara.
Ampas kopi dari para tenant akan diolah secara instan menjadi produk daur ulang seperti gantungan kunci, tatakan gelas, hingga asbak. Produk-produk itu nantinya dibagikan gratis kepada pengunjung yang hadir.
Langkah ini jadi pembeda dari festival kopi lain yang biasanya hanya berfokus pada pameran produk dan sesi cupping. Pengunjung tidak hanya mencicipi kopi, tetapi juga melihat langsung proses pengolahan limbahnya.
Otam mengungkapkan bahwa persiapan gelaran ini merupakan buah dari riset mendalam selama hampir satu tahun. Tim penyelenggara menyusuri sejumlah wilayah untuk memetakan tradisi dan potensi kopi setempat.
"Setelah kami keliling, ternyata Maluku punya budaya minum kopi yang sangat kuat dan perlu dikenalkan dengan cara yang tepat," ujar Otam saat ditemui di Ambon.
Dari hasil penelusuran itu, penyelenggara memutuskan mengangkat narasi budaya sebagai fondasi acara, bukan sekadar tren gaya hidup urban. Tagline "Taste the Island, Brew the Culture" dipilih untuk menegaskan arah tersebut.
Gelaran perdana ini bakal jadi uji pertama seberapa besar pasar kopi Maluku bisa menerima format festival yang memadukan tradisi, edukasi industri, dan tanggung jawab lingkungan dalam satu panggung.