MALUKU — IHSG ditutup menguat 0,46 persen ke level 6.036,89 pada perdagangan Jumat (2/10/2026), meski secara mingguan masih terkoreksi 3,28 persen. Investor asing mencatat net sell sekitar Rp3,90 triliun di pasar reguler sepanjang pekan. Tiga saham konglomerasi dan sejumlah emiten perbankan menjadi penekan utama indeks.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri pekan dengan catatan yang bercampur. Penguatan 0,46 persen pada Jumat belum cukup menutup koreksi mingguan yang mencapai 3,28 persen, berdasarkan data perdagangan yang dirilis Bursa Efek Indonesia.
Aliran dana asing yang keluar dari pasar reguler menambah tekanan. Net sell investor asing sekitar Rp3,90 triliun mencerminkan kehati-hatian pelaku pasar terhadap saham-saham berkapitalisasi besar di tengah ketidakpastian global.
Berdasarkan daftar top laggards, saham-saham yang terafiliasi dengan kelompok konglomerasi dan emiten perbankan menyumbang tekanan terbesar terhadap IHSG. Tiga saham konglomerasi mencatat kontribusi negatif signifikan secara kolektif.
Ketiga emiten tersebut secara total memberikan kontribusi negatif 41,39 poin terhadap IHSG. Bobot kapitalisasi pasar yang besar membuat pergerakan ketiganya berdampak langsung pada indeks secara keseluruhan.
Selain saham konglomerasi, sejumlah emiten perbankan juga masuk dalam daftar penekan indeks. Saham perbankan yang biasanya menjadi penopang indeks justru turut melemah sepanjang pekan, memperbesar koreksi mingguan IHSG.
Investor asing mencatat net sell sekitar Rp3,90 triliun di pasar reguler sepanjang pekan. Angka ini menunjukkan tekanan jual yang cukup besar dari investor institusi asing terhadap saham-saham berkapitalisasi besar.
Aliran keluar dana asing ini terjadi di tengah berbagai sentimen global yang mempengaruhi pasar emerging markets, termasuk Indonesia. Pergerakan IHSG sepanjang pekan mencerminkan respons pasar terhadap dinamika tersebut.
Meski demikian, penguatan 0,46 persen pada Jumat memberikan sinyal bahwa sebagian pelaku pasar mulai melakukan akumulasi di level tertentu. Level 6.036,89 menjadi titik penutupan yang patut dicermati untuk menentukan arah indeks pada sesi berikutnya.
Koreksi mingguan 3,28 persen dengan net sell asing yang besar menjadi perhatian bagi investor yang memegang saham berkapitalisasi besar. Saham-saham konglomerasi dan perbankan yang menjadi penekan indeks perlu dicermati pergerakannya.
Bagi investor jangka pendek, volatilitas yang tinggi membuka peluang trading. Namun bagi investor jangka panjang, tekanan jual asing bisa menjadi momentum untuk mengakumulasi saham dengan fundamental yang masih solid di harga yang lebih murah.
Pergerakan IHSG ke depan akan bergantung pada perkembangan sentimen global dan respons pelaku pasar terhadap aliran dana asing. Level 6.000 menjadi support psikologis yang perlu dipertahankan untuk mencegah koreksi lebih dalam.