MALUKU — PT Kereta Api Indonesia (Persero) menuntaskan penutupan 172 perlintasan sebidang hingga 23 Juli 2026, tetapi masih mengejar pembenahan fasilitas keselamatan di 190 titik prioritas yang tersebar di Jawa dan Sumatra. Pekerjaan itu menjadi bagian dari upaya memperkuat keselamatan perjalanan kereta setelah insiden KA Argo Bromo Anggrek dan KA Commuter Line di Bekasi Timur.
Paragraf pembuka: Perusahaan pelat merah itu menyatakan seluruh 172 perlintasan yang masuk instruksi penutupan pada 11 Mei 2026 telah ditutup. Kendati begitu, KAI menilai penutupan bukan akhir dari pekerjaan rumah, melainkan titik awal untuk membenahi titik-titik lain yang dinilai masih rawan. Pembenahan dilakukan bersama Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan.
Hingga 28 September 2026, pekerjaan sipil telah berlangsung di 183 dari 190 lokasi prioritas. Pekerjaan modular tercatat di 69 lokasi, sementara sejumlah fasilitas keselamatan masih dalam proses pengerjaan.
Pemasangan rambu dilakukan di 26 lokasi dan palang pintu di dua lokasi. Perangkat komunikasi telah dikerjakan di 87 lokasi. Program ini tersebar di sembilan Daerah Operasi (Daop) dan empat Divisi Regional (Divre).
Untuk mendukung pengoperasian 190 titik tersebut, KAI menyiapkan 748 petugas Penjaga Jalan Lintasan (PJL) yang telah tersertifikasi. Salah satu titik yang sudah rampung adalah JPL 86 Bekasi Timur.
Di lokasi itu, KAI menyelesaikan pembangunan pos jaga serta memasang rambu, palang pintu, dan perangkat komunikasi. Perlintasan tersebut kini telah dioperasikan.
Selain pembenahan fisik, KAI menindaklanjuti enam rekomendasi Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) terkait insiden KA 4B Argo Bromo Anggrek dan KA 5568A Commuter Line di Bekasi Timur. Insiden itu menjadi pemicu percepatan pembenahan di titik-titik rawan.
VP of Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan pembenahan dilakukan secara bertahap dengan melibatkan berbagai pihak, termasuk Ditjen Perkeretaapian Kemenhub.
“Perbaikan kami jalankan secara bertahap dan terukur, mulai dari penanganan perlintasan, kesiapan petugas, fasilitas keselamatan, hingga edukasi kepada masyarakat,” kata Anne dalam keterangan tertulis di Jakarta, (2/10).
Penutup: Penutupan 172 perlintasan dan pembenahan 190 titik prioritas menunjukkan keselamatan perjalanan kereta masih menjadi pekerjaan panjang. Bagi penumpang dan warga di sekitar jalur, kelengkapan rambu, palang pintu, serta petugas jaga menjadi penentu utama apakah perjalanan kereta benar-benar aman.